BINTANG UNTUK SAHABAT
Malam nan suci dan sepi,
menarikku untuk keluar dari rumah.
Kupandangi Langit malam...
Ternyata bertaburkan Bintang yang tak terhitung jumlahnya.
Andaikan ku seorang Bidadari,
Kan kubawa diriku dan sahabatku untuk menari diatas sana.
Kuraih sebuah Bintang terindah,
dan kupersembahkan untuk sahabatku yang selalu menemaniku.
Senin, 01 April 2013
SELIMUT MIMPI - SOFTSKILL B.INDONESIA
Selimut Mimpi
Sunyi sepi ku
ratapi dalam hati
Kegelapan yang
selalu menyelimuti ku
Tak akan pernah
tau kapan akan datang terang
Hatiku kian
menangis dalam sunyi nya kehidupan yang ku alami
Rasa nya hati
ini kosong
Tak ada warna,
Canda maupun tawa
Hidup ini
kulalui Sebelum aku mengenal tulisan
Sebelum aku
paham akan makna
Hingga aku
selalu merindukan cahaya dalam tidur ku
Rasanya ingin
selalu tertidur dalam selimut mimpi
Terdiam namun
menikmati keindahan dan kehidupan yang sebenarnya
Aku bukanlah
benda yang hanya memiliki bentuk
Aku bukanlah
tumbuhan yang tumbuh dalam keadaan terdiam
Aku memiliki
jiwa dan perasaan yang selalu merindukan selimut mimpi
Walau terlihat
samar namun aku bahagia dalam selimut mimpiku
Karena aku
menemukan cahaya dalam selimut mimpiku
Cahaya yang
datang untuk menghiburku
Memberikan
canda dan tawa
Memberikan
kehidupan yang penuh warna
Karena itu aku
sangat merindukan nya
Merindukan
Selimut mimpi ku
KARANGAN - SOFTSKILL B.INDONESIA
KARANGAN
Karangan merupakan
karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan
menyampaikanya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Dalam
artikel ini karangan di bagi menjadi 2 jenis yaitu karangan ilmiah dan karangan
non ilmiah.
Karangan
ilmiah
Karangan ilmiah adalah
biasa disebut karya ilmiah, yakni laporan tertulis dan diterbitkan yang
memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang
atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan
ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Tujuan dari pembuatan
karangan ilmiah, antara lain :
·
Memberi penjelasan
·
Memberi komentar atau penilaian
·
Memberi saran
·
Menyampaikan sanggahan
Bentuk
Karya Ilmiah
Dalam karya ilmiah
dikenal antara lain berbentuk makalah, report atau laporan ilmiah yang
dibukukan, dan buku ilmiah.
1. Karya Ilmiah
Berbentuk Makalah
Makalah pada umumnya
disusun untuk penulisan didalam publikasi ilmiah, misalnya jurnal ilmu
pengetahuan, proceeding untuk seminar bulletin, atau majalah ilmu pengetahuan
dan sebagainya. Maka ciri pokok makalah adalah singkat, hanya pokok-pokok saja
dan tanpa daftar isi.
2. Karya Ilmiah
Berbentuk Report/ Laporan Ilmiah Yang Dibukukan
Karya ilmiah jenis ini
biasanya ditulis untuk melaporkan hasil-hasil penelitian, observasi, atau
survey yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang. Laporan ilmiah yang
menjadi persyaratan akademis di perguruan tinggi biasanya disebut Skripsi, yang
biasanya dijadikan persyaratan untuk karya ilmiah jenjang S1, Tesis untuk
jenjang S2, dan Disertasi untuk jenjang S3.
3. Buku Ilmiah
Buku ilmiah adalah
karya ilmiah yang tersusun dan tercetak dalam bentuk buku oleh sebuah penerbit
buku umum untuk dijual secara komersial di pasaran. Buku ilmiah dapat berisi
pelajaran khusus sampai ilmu pengetahuan umum yang lain.
Ciri-Ciri
Karya Ilmiah
·
Karangan ilmiah mempunyai beberapa ciri,
antara lain:
·
Kejelasan. Artinya semua yang
dikemukakan tidak samar-samar, pengungkapan maksudnya tepat dan jernih.
·
Kelogisan. Artinya keterangan yang dikemukakan
masuk akal.
·
Kelugasan. Artinya pembicaraan langsung
pada hal yang pokok.
·
Keobjektifan. Artinya semua keterangan
benar-benar aktual, apa adanya.
·
Keseksamaan. Artinya berusaha untuk
menghindari diri dari kesalahan atau kehilafan betapapun kecilnya.
·
Kesistematisan. Artinya semua yang
dikemukakan disusun menurut urutan yang memperlihatkan kesinambungan.
·
Ketuntasan. Artinya segi masalah dikupas
secara mendalam dan selengkap-lengkapnya.
Macam-Macam
Karya Ilmiah
1. Skripsi; adalah
karya tulis (ilmiah) mahasiswa untuk melengkapi syarat mendapatkan gelar
sarjana (S1). Skripsi ditulis berdasarkan pendapat (teori) orang lain. Pendapat
tersebut didukung data dan fakta empiris-obyektif, baik berdasarkan penelitian
langsung, observasi lapangan / penelitian di laboratorium, ataupun studi
kepustakaan. Skripsi menuntut kecermatan metodologis hingga menggaransi ke arah
sumbangan material berupa penemuan baru.
2. Tesis; adalah jenis
karya tulis dari hasil studi sistematis atas masalah. Tesis mengandung metode
pengumpulan, analisis dan pengolahan data, dan menyajikan kesimpulan serta
mengajukan rekomendasi. Orisinalitas tesis harus nampak, yaitu dengan
menunjukkan pemikiran yang bebas dan kritis. Penulisannya baku dan tesis dipertahankan
dalam sidang. Tesis juga bersifat argumentative dan dihasilkan dari suatu
proses penelitian yang memiliki bobot orisinalitas tertentu.
3. Disertasi; adalah
karya tulis ilmiah resmi akhir seorang mahasiswa dalam menyelesaikan program S3
ilmu pendidikan. Disertasi merupakan bukti kemampuan yang bersangkutan dalam
melakukan penelitian yang berhubungan dengan penemuan baru dalam salah satu
disiplin ilmu pendidikan.
Sikap
Ilmiah
Dalam penulisan karya
ilmiah, terdapat 7 sikap ilmiah yang merupakan sikap yang harus ada.
Sikap-sikap ilmiah tersebut adalah sebagai berikut :
1) Sikap ingin tahu
Sikap ingin tahu ini
terlihat pada kebiasaan bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan
bidang kajiannya.
2) Sikap kritis
Sikap kritis ini
terlihat pada kebiasaan mencari informasi sebanyak mungkin berkaitan dengan
bidang kajiannya untuk dibanding-banding kelebihan -kekurangannya,
kecocokan-tidaknya, kebenaran-tidaknya, dan sebagainya.
3) Sikap obyektif
Sikap objektif ini
terlihat pada kebiasaan menyatakan apa adanya, tanpa diikuti perasaan pribadi.
4) Sikap ingin menemukan
Selalu memberikan
saran-saran untuk eksperimen baru. Kebiasaan menggunakan eksperimen-eksperimen
dengan cara yang baik dan konstruktif. Selalu memberikan konsultasi yang baru dari
pengamatan yang dilakukannya.
5) Sikap menghargai karya orang lain
Sikap menghargai karya
orang lain ini terlihat pada kebiasaan menyebutkan sumber secara jelas
sekiranya pernyataan atau pendapat yang disampaikan memang berasal dari
pernyataan atau pendapat orang lain.
6) Sikap tekun
Tidak bosan mengadakan
penyelidikan, bersedia mengulangi eksperimen yang hasilnya meragukan, tidak
akan berhenti melakukan kegiatan-kegiatan apabila belum selesai. Terhadap
hal-hal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.
7) Sikap terbuka
Sikap terbuka ini
terlihat pada kebiasaan mau mendengarkan pendapat, argumentasi, kritik, dan
keterangan orang lain, walaupun pada akhirnya pendapat, argumentasi, kritik,
dan keterangan orang lain tersebut tidak diterima karena tidak sepaham atau
tidak sesuai.
Syarat
Karangan Ilmiah
Suatu karangan dari
hasil penelitian, pengamatan, ataupun peninjauan dikatakan ilmiah jika memenuhi
syarat sebagai berikut :
·
penulisannya berdasarkan hasil
penelitian;
·
pembahasan masalahnya objektif sesuai
dengan fakta;
·
karangan itu mengandung masalah yang
sedang dicari pemecahannya; baik dalam penyajian maupun dalam pemecahan masalah
digunakan metode tertentu;
·
bahasa yang digunakan hendaklah benar,
jelas, ringkas, dan tepat sehingga tidak terbuka kemungkinan bagi pembaca untuk
salah tafsir (dihindarkan dari penggunaan bahasa yang maknanya bersifat
konotasi/ambigu).
Melihat persyaratan di
atas, seorang penulis karangan ilmiah hendaklah memiliki ketrampilan dan
pengetahuan dalam bidang :
·
Masalah yang diteliti,
·
Metode penelitian,
·
Teknik penulisan karangan ilmiah,
·
Penguasaan bahasa yang baik.
Karangan
non ilmiah
Karangan non-ilmiah
adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan
pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung
fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa
digunakan (tidak terlalu formal).
Satu ciri yang pasti
ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Karangan non-ilmiah
ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya
bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya formal dan populer, walaupun
kadang-kadang juga formal dan teknis. Contoh karya tulis non-ilmiah yaitu
cerpen, puisi, novel, komik dll.
Ciri-ciri karya tulis
non-ilmiah :
·
ditulis berdasarkan fakta pribadi,
·
fakta yang disimpulkan subyektif,
·
gaya bahasa konotatif dan populer,
·
tidak memuat hipotesis,
·
penyajian dibarengi dengan sejarah,
·
bersifat imajinatif,
·
situasi didramatisir,
·
bersifat persuasif.
Karya
nonilmiah bersifat :
·
Emotif: kemewahan dan cinta lebih
menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi,
·
persuasif: penilaian fakta tanpa bukti.
Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan
cukup informative,
·
deskriptif: pendapat pribadi, sebagian
imajinatif dan subjektif, dan jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.
Cerpen.
Suatu bentuk naratif
fiktif. Cerita pendek yang cenderung padat dan langsung pada tujuannya
dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang.
Dongeng.
Merupakan suatu kisah
yang diangkat dari pemikiran fiktif dan kisah nyata, diakhir cerita biasanya
mengandung pesan moral.
Roman.
Sejenis karya sastra
dalam bentuk prosa atau ganjaran yang isinya melukisnya perbuatan pelakunya
menurut watak dan isi jiwa masing-masing.
Novel.
Sebuah karya fiksi
prosa yang tertulis dan naratif, biasanya dalam bentuk cerita.
Drama.
Suatu bentuk karya
sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh actor.
Sumber :
KASUS BANJIR DI JAKARTA - SOFTSKILL B.INDONESIA
PENDAHULUAN
Banjir merupakan
peristiwa tergenangnya sejumlah luasan daratan oleh sejumlah volume air yang
meluap atau melimpas dari tempat dimana volume air tersebut seharusnya berada
atau mengalir. Banjir rob sendiri
merupakan istilah khusus yang hanya dipakai di Indonesia, untuk menggambarkan
banjir yang disebabkan oleh meluapnya sejumlah volume air laut ke daerah pesisir
sekitarnya.
Jakarta layak
kebanjiran. Banjir terjadi karena terganggunya perimbangan antara air
infiltrasi, run-off, dan evapotranspirasi akibat perubahan daya serap lahan.
Gundulnya pepohonan dan massifnya permukaan lahan, apalagi pada lahan miring,
merupakan faktor utamanya.
Alam memang tidak
pernah mengatur adanya banjir dalam siklus hidrologinya. Banjir terjadi justru
karena kemajuan peradaban manusia dan 'keberhasilannya membangun. Banjir telah
menjadi rapor buruk yang tidak layak diperdebatkan karena merupakan hasil kerja
kolektif semua pihak. Banjir, yang awalnya hanya dianggap air pasang karena
akumulasi sesaat presipitasi yang akan cepat surut setelah hujan reda, kini
menjadi bencana permanen. Banjir kini meluap dalam skala besar, menggenangi
permukiman, menghanyutkan rumah dan harta benda, bahkan tak jarang menyebabkan
korban jiwa.
Jakarta layak kebanjiran.
Banjir terjadi karena terganggunya perimbangan antara air infiltrasi, run-off,
dan evapotranspirasi akibat perubahan daya serap lahan. Gundulnya pepohonan dan
massifnya permukaan lahan, apalagi pada lahan miring, merupakan faktor
utamanya. Maka tidak salah, awalnya luapan air banjir Jakarta diduga karena
rusaknya penutupan hutan dan lahan di hulu daerah aliran sungai (DAS). Namun
kenyataan pada 1 Februari 2008 tadi tidak demikian. Hujan lokal telah
menggenangi Jakarta. Bahkan tidak menyebabkan kota pelanggan banjir, Bekasi,
kebanjiran.
Ancaman banjir DKI
Jakarta berasal dari berbagai penjuru. Tercatat, air limpas kiriman dari hulu
dan bagian tengah DAS Ciliwung berjumlah 500 juta meter kubik setiap tahun.
Banjir juga terjadi karena pertemuan air limpas presipitasi hujan dengan
naiknya air pasang laut di daerah hilir.
Pengurukan areal rawa
pantai untuk permukiman dan aktivitas komersial ataupun wisata sekelompok warga
kelas atas juga terbukti memindahkan air bah ke daerah bawah yang sebelumnya
tidak menderita kebanjiran dan menenggelamkan ruas jalan tol Sedyatmo. Faktor
intensitas curah hujan dan durasinya tentu sangat berperanan pula menciptakan
bencana itu.
Faktor lain adalah
akibat tidak tertatanya permukiman jutaan masyarakat yang mengais rezeki dari
menumpuknya uang pembangunan negara di Jakarta. Permukiman dibangun di mana
saja yang memiliki akses cepat ke sumber perekonomian. Daerah lembah yang basah
di daerah hilir atau bantaran sungai justru diminati karena harganya
terjangkau.
Banjir Jakarta juga
terjadi karena ulah pengelola kota itu sendiri yang tidak memahami atau tidak
peduli pada ancaman bencana banjir. Rencana tata kota dan penyelenggaraan
pemerintahan yang baik dalam prakteknya cenderung mudah diabaikan. Pemerintah
setempat juga hanya mampu membangun jalan umum dari bekas jalan setapak yang
berliku, bergunung, dan berlembah mengikuti alur topografi asli tanpa pemikiran
masalah kebutuhan aliran air.
Dari
kasus diatas kita bisa mengkaitkan dalam penjabaran metode ilmiah.
Pengertian
Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan
suatu pengajaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan
logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interelasi yang
sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari
jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian
sistematis. Karena itu, penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang
dekat sekali, jika tidak dikatakan sama.
Metode
Ilmiah memiliki ciri-ciri keilmuan, yaitu :
·
Rasional: sesuatu yang masuk akal dan
terjangkau oleh penalaran manusia
·
Empiris: menggunakan cara-cara tertentu
yang dapat diamati dengan menggunakan panca indera
·
Sistematis: menggunakan proses dengan
langkah-langkah logis.
Syarat-syarat
Metode Ilmiah, diantaranya :
·
Obyektif, artinya pengetahuan itu sesuai
dengan objeknya atau didukung metodik fakta empiris.
·
Metodik, artinya pengetahuan ilmiah
diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol.
·
Sistematik, artinya pengetahuan ilmiah
itu tersusun dalam suatu sistem, tidak berdiri sendiri, satu dengan yang lain
saling berkaitan.
·
Universal, artinya pengetahuan tidak
hanya berlaku atau dapat diamati oleh seseorang atau beberapa orang saja tetapi
semua orang melalui eksperimentasi yang sama akan memperoleh hasil yang sama.
Sifat
Metode Ilmiah :
·
Efisien dalam penggunaan sumber daya
(tenaga, biaya, waktu).
·
Terbuka (dapat dipakai oleh siapa saja).
·
Teruji (prosedurnya logis dalam
memperoleh keputusan).
Pola
pikir dalam metode ilmiah :
·
Induktif: Pengambilan kesimpulan dari
kasus yang bersifat khusus menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Penalaran
secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang
mempunyai ruang lingkup terbatas dalam menyusun argumentasi dan terkait dengan
empirisme.
·
Deduktif: Pengambilan kesimpulan dari
hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan
secara deduktif biasanya mempergunakan pola pikir silogismus dan terkait dengan
rasionalisme.
Langkah
– langkah Metode Penelitian, diantaranya :
a. Perumusan masalah
Proses kegiatan ilmiah
dimulai ketika kita tertarik pada sesuatu hal. Ketertarikan ini karena manusia
memiliki sifat perhatian. Pada saat kita tertarik pada sesuatu, sering timbul
pertanyaan dalam pikiran kita. Perumusan masalah merupakan langkah untuk
mengetahui masalah yang akan dipecahkan sehingga masalah tersebut menjadi jelas
batasan, kedudukan, dan alternatif cara untuk memecahkan masalah tersebut.
Perumusan masalah juga berarti pertanyaan mengenai suatu objek serta dapat
diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan objek tersebut. Masalah yang
ditemukan diformulasikan dalam sebuah rumusan masalah, dan umumnya rumusan
masalah disusun dalam bentuk pertanyaan.
b. Pembuatan kerangka
berfikir
Pembuatan kerangka
berfikir merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan antar berbagai faktor
yang berkaitan dengan objek dan dapat menjawab permasalahan. Pembuatan kerangka
berfikir menggunakan pola berfikir logis, analitis, dan sintesis atas
keterangan-keterangan yang diperoleh dari berbagai sumber informasi. Hal itu
diperoleh dari wawancara dengan pakar atau dengan pengamatan langsung.
c. Penarikan hipotesis
Hipotesis merupakan
dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu permasalahan. Penyusunan hipotesis
dapat berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh orang
lain. Dalam penelitian, setiap orang berhak menyusun hipotesis. Masalah yang dirumuskan
harus relevan dengan hipotesis yang diajukan. Hipotesis digali dari penelusuran
referensi teoretis dan mengkaji hasil-hasil penelitian sebelumnya.
d. Pengujian
Hipotesis/eksperiment
Pengujian hipotesis
dilakukan dengan cara menganalisis data. Data dapat diperoleh dengan berbagai
cara, salah satunya melalui percobaan atau eksperimen. Percobaan yang dilakukan
akan menghasilkan data berupa angka untuk memudahkan dalam penarikan
kesimpulan. Pengujian hipotesis juga berarti mengumpulkan bukti-bukti yang
relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat
bukti-bukti yang mendukung hipotesis.
e. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan
merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau
diterima. Hipotesis yang diterima dianggap sebagai bagian dari pengetahuan
ilmiah, sebab telah memenuhi persyaratan keilmuan. Syarat keilmuan yakni
mempunyai kerangka penjelasan yang konsisten dengan pengetahuan ilmiah
sebelumnya serta telah teruji kebenarannya. Melalui kesimpulan maka akan
terjawab rumusan masalah dan hipotesis yang diajukan dapat dibuktikan
kebenarannya.
Dari
Kasus yang diatas kita bisa mengkaitkannya dengan penjabaran Metode Ilmiah,
seperti:
Perumusan
Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan banjir, dan apa
dampak yang di timbulkannya ?
2. Mengapa banjir dapat menggenangi ibukota ?
3. Bagaimana cara mengatasi banjir di ibukota?
Tujuan
Penulisan
1. Mengetahui tentang banjir dan dampak yang
ditimbulkannya
2. Mengetahui penyebab banjir yang terjadi di
ibukota
3. Mengetahui cara mengatasi banjir di ibukota
Kesimpulan
1. Daerah Jakarta Selatan ini terjadi banjir disebabkan
oleh pemukiman padat penduduk, saluran air yang diperkecil, alih fungsi lahan,
tidak ada resapan air, dan pembuangan sampah yang liar.
2. Cara mengatasi
banjir di daerah Jakarta adalah:
·
Membuat daerah resapan air yang lebih
luas lagi, dan jangan memperkecil saluran air yang sudah ada.
·
Mengkaji ulang tata kota daerah
Kebagusan, untuk mengetahui titik-titik daerah banjir.
·
Membuat tanggul baik yang permanent atau
non permanent dirumah masing-masing yang selalu terkena banjir.
·
Jangan mendirikan bangunan di lahan yang
memang rawan banjir.
Sumber:
alphaomega86.tripod.com/metode_ilmiah.htm
Jumat, 22 Maret 2013
PENALARAN YANG DIPERGUNAKAN DALAM PROSES BERBAHASA
Pengertian
Penalaran
Penalaran adalah proses
berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang
menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang
sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan
sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan
sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang
disebut menalar.
Metode
dalam menalar
Ada dua jenis metode
dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.
1. Metode induktif
Metode berpikir
induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari
hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki
berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk
dari metode berpikir induktif.
2. Metode deduktif
Metode berpikir
deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih
dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Konsep
dan simbol dalam penalaran
Penalaran juga
merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan
simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa,
sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya adalah
pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan
untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan
penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan
kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di
atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang
saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada
penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian
perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan
sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar
dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian
pengertian.
Syarat-syarat
kebenaran dalam penalaran
Jika seseorang
melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran.
Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
Suatu penalaran
bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang
benar atau sesuatu yang memang salah.
Dalam penalaran,
pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis
harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal
maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat,
diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti
isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.
Kamis, 03 Januari 2013
BAB 14 : PENGARUH SITUASI
Tipe-tipe Situasi Konsumen
a. SITUASI KOMUNIKASI
Situasi Komunikasi adalah suasana
atau lingkungan dimana konsumen memperoleh informasi atau melakukan komunikasi.
Konsumen mungkin memperoleh informasi melalui :
-
Komunikasi Lisan dengan teman, kerabat, tenaga
penjual, atau wiraniag
-
Komunikasi non pribadi, seperti iklan TV, radio,
internet, koran, majalah,poster, billboard, brosur, leaflet dsb
- Informasi diperoleh langsung dari toko
melalui promos penjualan, pengumuman di rak dan di depan took.
b. SITUASI PEMBELIAN
Situasi Pembelian adalah lingkungan
atau suasana yang dialami/dihadapi konsumen ketika membeli produk dan jasa.
Situasi pembelian akan mempengaruhi pembelian Misal: Ketika Konsumen berada di
bandara, ia mungkin akan bersedia membayar sekaleng Coke berapa saja harganya
ketika haus. Sebaliknya, jika ia berbelanja Coke di swalayan dan mendapatkan
harganya relatif lebih mahal, ia mungkin sangat sensitif terhadap harga.
Konsumen tsb mungkin akan menunda pembelian Coke dan mencari di tempat lain.
c. SITUASI PEMAKAIAN
Situasi Pemakaian disebut juga
situasi penggunaan produk dan jasa merupakan situasi atau suasana ketika
konsumsi terjadi. Konsumen seringkali memilih suatu produk karena pertimbangan
dari situasi konsumsi. Misal: Konsumen Muslim sering memakai kopiah dan pakaian
takwa pada saat sholat atau pada acara keagamaan. Kebaya akan dipakai kaum
wanita pada acara pernikahan atau acara resmi lainya, dan jarang digunakan
untuk pergi bekerja Para Produsen sering menggunakan konsep situasi pemakaian
dalam memasarkan produknya, produk sering diposisikan sebagai produk untuk
digunakan pada situasi pemakaian tertentu. Misalnya, ada pakaian resmi untuk ke
pesta, pakaian olahraga, pakaian untuk kerja, pakaian untuk santai dan
berolahraga.
INTERAKSI ORANG-SITUASI
Situasi pembelian mempunyai
pengaruh yang nyata terhadap keputusan pembelian konsumen dengan gaya hidup
believer. Hal ini menunjukkan bahwa situasi pembelian mampu menghadirkan
keinginan konsumen untuk membeli karena situasi ini bisa menjadi stimulus
terhadap keputusan konsumen untuk membeli.
Gaya hidup pembelian juga mempunyai
pengaruh yang nyata terhadap keputusan pembelian konsumen atas sesuatu.
Konsumen dengan gaya hidup believer ternyata juga mengikuti mode-mode pakaian
khususnya misalnya celana jeans sehingga gaya hidup mereka berpengaruh terhadap
keputusan pembelian yang dilakukan. Situasi pembelian dan gaya hidup terhadap
mode bagi konsumen dengan gaya hidup believer ternyata cukup tinggi mampu
mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dengan pengaruhnya sebesar 68%.
PENGARUH SITUASI YANG TIDAK TERDUGA
Situasi tidak terduga dapat menjadi
pemicu seseorang untuk membeli suatu barang. Misalnya mahasiswi yang akan
mengikuti ujian dan lupa membawa bolpoin dan pensil, maka secara otomatis dia
akan membeli dulu bolpoin dan pensil sebelum mengikuti ujian tersebut.
BAB 13 : PENGARUH KELUARGA DAN RUMAH TANGGA
Keluarga dan Studi Kasus Tentang Perilaku Konsumen
Studi tentang keputusan keluarga
sebagai konsumen kurang lazim dibandingkan studi tentang individu sebagai
konsumen. Alasan untuk pengabaian dalam studi pembelian keluarga adalah
kesulitan dalam mempelajari tentang keluarga sebagai organisasi. Survey dan
metodologi penelitian pemasaran lain lebih mudah dijalankan untuk individu
daripada untuk keluarga. Pemberian kuesioner kepada seluruh keluarga
membutuhkan akses ke semua anggota pada waktu yang lebih kurang sama, dengan
menggunakan bahasa yang mempunyai makna sama bagi semua anggota keluarga, dan
menafsirkan hasil ketika anggota dari keluarga yang sama melaporkan opini yang
bertentangan mengenai apa yang dibeli oleh keluarga atau pengaruh relative
dalam keputusan tersebut.lasan untuk pengabaian dalam studi pembelian keluarga
adalah kesulitan dalam mempelajari tentang keluarga sebagai organisasi. Survey
dan metodologi penelitian pemasaran lain lebih mudah dijalankan untuk individu
daripada untuk keluarga. Pemberian kuesioner kepada seluruh keluarga
membutuhkan akses ke semua anggota pada waktu yang lebih kurang sama, dengan
menggunakan bahasa yang mempunyai makna sama bagi semua anggota keluarga, dan
menafsirkan hasil ketika anggota dari keluarga yang sama melaporkan opini yang
bertentangan mengenai apa yang dibeli oleh keluarga atau pengaruh relative
dalam keputusan tersebut.
Penentu Keputusan Pembelian Pada Suatu Keluarga
Keluarga memiliki pendapatan
rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan rumah tangga karena jumlah yang lebih
banyak dari individu yang bekerja di dalam keluarga. Untuk keluarga mapun rumah
tangga, keempat variabel structural yang paling member dampak pada keputusan
pembelian dan yang dengan demikian paling menarik bagi pemasar adalah usia
kepala rumah tangga atau keluarga, status, perkawinan, kehadiran anak san
status pekerjaan.
Keluarga adalah sama dengan
perusahaan; keluarga adalah organisasi yang terbentuk untuk mencapai fungsi
tertentu yang lebih efektif dibandingkan individu yang hidup sendiri. Fungsi yang
jelas bahwa dua orang dapat mencapai lebih baik daripada satu orang adalah
mempunyai anak. Walaupun analisis konsumen mungkin tidak mempunyai opini
mengenai apakah keluarha harus mempunyai anak atau tidak. Konsekuensi ekonomi
dengan hadirnya anak menciptakan struktur permintaan akan pakaian, makanan,
perabot, rumah, perawatan kesehatan, pendidikan, dan produk lain. Anak di dalam
keluarga dapat menyebabkan menurunnya permintaan akan produk lain, seperti
perjalanan, pakaian orang dewasa, dan banyak barang yang bebas dipilih.
Keluarga adalah “pusat pembelian”
yang merefleksikan kegiatan dan pengaruh individu yang membentuk keluarga
bersangkutan. Individu membeli produk untuk dipakai sendiri dan untuk dipakai
oleh anggota keluarga yang lain.
Peranan individu dalam pembelian
keluarga.
Perilaku peran (role behavior).
Peranan pasangan hidup dalam
keputusan pembelian.
Family Life Cycle (FLC)
Keluarga berubah bersama waktu,
melewati serangkaian tahap. Proses ini disebut silkus kehidupan keluarga (SKK).
Walaupun sudah digunakan di dalam literature sejak tahun 1931, konsep tersebut
mendapat pengaruhnya yang paling luas di dalam penelitian pemasaran oleh Wells
dan Gubar, dan belakangan di dalam buku karya Reynolds dan Wells, yang
memperhatikan bagaimana siklus kehidupan mempengaruhi perilaku konsumen.
Perubahan Struktur Keluarga dan Rumah Tangga
Memahami perubahan struktur
keluarga dan pengaruhnya terhadap pengambilan keputusan sebagai konsumen.
Keputusan membeli dalam keluarga di pengaruhi oleh keadaan sudah menikah atau
belum, ukuran jumlah anggota keluarga, hal tersebut mempengaruhi jumlah
belanjaan yang akan dibeli maupun budget yang akan di siapkan untuk mengambil
keputusan dalam hal membeli suatu barang. Banyak dari mereka benar-benar
menghitung jumlah pengeluaran mereka sesuai dengan keadaan yang mereka hadapi
dalam keluarga mereka sehari-hari, mana yang sekiranya menjadi keputusan yang
utama mana yang belum menjadi prioritas saat itu.
Metode Riset Untuk Mengetahui Pengambil Keputusan Oleh keluarga
Bila anda menyiapkan analisis pengaruh keluarga pada keputusan
keluarga dalam hal pembelian atau konsumsi, sebagian besar teknik penelitian
akan sama dengan studi penelitian pemasaran yang lain.
- Kerangka Proses-Keputusan.
- Kategori Sturktur-Peran.
- Bias Pewawancara.
-Seleksi Responden .
Langganan:
Postingan (Atom)